Pandemi Covid-19 dan Pengaruhnya terhadap Ketimpangan di Indonesia
LATAR BELAKANG
Krisis kesehatan novel coronavirus disease 2019 (COVID-19) telah membawa dampak
berkelanjutan di seluruh dunia. Menurut laporan World Health Organization (WHO) per 15 Agustus 2020, 21 juta orang
di seluruh dunia telah terinfeksi virus ini sehingga memaksa banyak negara
memberlakukan kebijakan lockdown (penguncian) parsial atau total. Akibatnya
proses produksi terhenti, rantai pasokan barang dan jasa terganggu, sehingga
menimbulkan lonjakan harga komoditas. Imbasnya ialah ketidakpastian lapangan
pekerjaan di masa depan pasca COVID-19, di mana ILO (International Labor
Organization, 2020) memperkirakan bahwa jam kerja global akan turun 10,7 persen
relatif terhadap kuartal terakhir tahun 2019, yang setara dengan Pemutusan
Hubungan Kerja (PHK) masif terhadap sekitar 305 juta pekerja formal. Sementara
krisis kesehatan dan ekonomi masih membawa malapetaka di seluruh dunia,
gelombang krisis berikutnya sudah berlangsung: krisis pangan dan gizi karena
sistem pangan yang goyah, ditambah lagi dengan bencana keikliman global yang
terus berlangsung (Phillips et al., 2020; The Lancet Global Health, 2020).
Persoalan ketimpangan terjadi pada berbagai
aspek: antar-individu; antar-gender; antar desa-kota; antar-wilayah; dan
antar-kelompok sosial. Sementara itu, upaya memerangi ketimpangan membutuhkan
waktu yang lama agar dampaknya terlihat.Persoalan mengurangi ketimpangan tak
hanya membutuhkan solusi teknis, tapi juga landasan ideologis (tirto.id,
diakses pada 19/12/20).
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) berpengaruh
signifikan terhadap ketimpangan pendapatan di Indonesia.Pengaruh yang
signifikan antara IPM terhadap ketimpangan pendapatan di Indonesia
mengindikasikan bahwasannya naik turunnya ketimpangan pendapatan dipengaruhi
oleh nilai IPM.Dengan demikian IPM berpengaruh signifikan terhadap ketimpangan
pendapatan yang terjadi antar provinsi di Indonesia. IPM yang tidak merata
antar berbagai daerah akan menyebabkan ada daerah yang relatif lebih maju
akibat dari kualitas manusianya yang lebih baik dan ada daerah yang relatif
tidak maju akibat kualitas manusianya yang rendah. Hal ini akan mendorong tidak
seimbangnya pembangunan yang terjadi. Apabila hal ini terus dibiarkan maka ketimpangan
pendapatan yang terjadi antar daerah akan semakin melebar(Bantika V,2015).
PEMBAHASAN
Ketimpangan pendapatan di Indonesia dapat
dilihat berdasarkan indikator atau suatu indeks ketimpangan pendapatan yang
salah satunya adalah Gini Rasio. Seperti yang diperlihatkan oleh data pada
Appendix 1, perkembangan ketimpangan pendapatan yang diukur berdasarkan Gini
Rasio dan faktor-faktor yang mempengaruhinya (berdasarkan teori dari Todaro,
Barro dan Ebel & Yilmaz) yaitu pertumbuhan ekonomi, produktivitas tenaga
kerja dan investasi dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) per pulau di Indonesia
dari tahun 2008-2012. Menurut Todaro,2003 dalam (Bantika V,2015) peningkatan
pertumbuhan ekonomi akan meningkatkan ketimpangan pendapatan dan sebaliknya.
Namun di Pulau Papua pada tahun 2010 tidak demikian, dimana penurunan
pertumbuhan ekonomi dibandingkan tahun sebelumnya menyebabkan ketimpangan
pendapatan malah mengalami peningkatan dari 0,34 menjadi 0,37, dimana kriteria
ketimpangan pendapatan mengalami perubahan dari ketimpangan rendah ke
ketimpangan sedang. Ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa
penurunan pertumbuhan ekonomi akan menurunkan ketimpangan pendapatan.
Potret kemiskinan itu menjadi sangat kontras
karena sebagian warga masyarakat hidup dalam kelimpahan, sementara sebagian
lagi hidup serba kekurangan. Kekayaan bagi sejumlah orang berrti kemiskinan
bagi oarng lain. Tingkat kesenjangan luar biasa dan relatif cukup
membahyakan.Karena itu, ketika kebangkitan nasionalisme tidak bisa meningkatkan
taraf hidup berperadaban, nasionalisme dapat meredup dan luruh dengan
sendirinya sebagaimana yang kita alami dewasa ini.Kemiskinan struktural dan
kultural yang permanen dalam kehidupan membuat karakter bangsa ini makin
terpuruk. Akibatnya, bangsa ini kehilangan jati diri, yang membuatnya makin
sulit membangkitkan kembali semangat nasionalismenya (Musa Asy’arie, 2011)
Pemerintah telah menganggarkan total biaya
penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebesar Rp695,20
triliun yang dialokasikan untuk enam sektor. Total realisasi hingga minggu
pertama Agustus adalah Rp151,25 triliun atau 21,8% dari pagu program Pemulihan
Ekonomi Nasional (kemenkeu. go.id, 10 Agustus 2020).
Berdasarkan pemberitaan, BPS
melaporkan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal II-2020 minus
mencapai angka 5,32 persen. Secara kuartalan, ekonomi terkontraksi 4,19 persen
dan secara kumulatif terkontraksi 1,26 persen. Sementara itu, kontraksi lebih
dalam dari konsensus pasar maupun ekspektasi pemerintah dan Bank Indonesia yang
berada di kisaran 4,3 persen-4,8 persen (www.kompas.com,diaksespada21/12/20).
Sumber: Badan Pusat Statistik
Persentase
penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 9,78 persen, meningkat 0,56 persen poin
terhadap September 2019 dan meningkat 0,37 persen poin terhadap Maret
2019.Jumlah penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 26,42 juta orang, meningkat
1,63 juta orang terhadap September 2019 dan meningkat 1,28 juta orang terhadap
Maret 2019.Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2019
sebesar 6,56 persen, naik menjadi 7,38 persen pada Maret 2020. Sementara
persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2019 sebesar
12,60 persen, naik menjadi 12,82 persen pada Maret 2020.Dibanding September
2019, jumlah penduduk miskin Maret 2020 di daerah perkotaan naik sebanyak 1,3
juta orang (dari 9,86 juta orang pada September 2019 menjadi 11,16 juta orang
pada Maret 2020). Sementara itu, daerah perdesaan naik sebanyak 333,9 ribu orang
(dari 14,93 juta orang pada September 2019 menjadi 15,26 juta orang pada Maret
2020).Garis Kemiskinan pada Maret 2020 tercatat sebesar Rp454.652,-/
kapita/bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp335.793,-
(73,86 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp118.859,- (26,14
persen).Pada Maret 2020, secara rata-rata rumah tangga miskin di Indonesia
memiliki 4,66 orang anggota rumah tangga. Dengan demikian, besarnya Garis
Kemiskinan per rumah tangga miskin secara rata-rata adalah sebesar
Rp2.118.678,-/rumah tangga miskin/bulan (bps.go.id, diakses pada 22/12/20).
Pandemi Covid-19 atau virus Corona telah
ditetapkan sebagai bencana nasional oleh Presiden Joko Widodo.Pandemi ini pun
berdampak cukup signifikan terhadap berbagai sektor kehidupan, tak terkecuali
terhadap perekonomian Indonesia yang turut terkena imbasnya. Bahkan Menteri
Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, dalam situasi yang sangat berat
nantinya akan terjadi peningkatan jumlah angka kemiskinan.
Di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini,
banyak sekali masyarakat yang sedang mengalami masa-masa sulit.Pandemi ini
perlahan-lahan membuat banyak orang harus berusaha keras untuk tetap bertahan
hidup.Dengan menyebarnya pandemi Covid-19 dan diterapkannya Pembatasan Sosial
Berskala Besar (PSBB), banyak golongan masyarakat yang mengalami penurunan
pendapatan, bahkan harus kehilangan mata pencahariannya.Kondisi ini
diperkirakan berpotensi menambah jumlah penduduk miskin di Indonesia.Pandemi Covid-19 berdampak
kepada kondisi sosial masyarakat, seperti risiko peningkatan kemiskinan dan
pengangguran. Berdasarkan simulasi LPEM FEB UI diketahui, ada sepuluh sektor
dengan peningkatan kemiskinan tertinggi, terutama sektor pertanian atau pangan
sebesar 18,1 persen(Katadata.co.id,diaksespada18/12/20).
Bagi sebagian orang, tidaklah mudah untuk bisa
bertahan hidup di tengah pandemi Covid-19 yang merebak.Kelaparan sudah pasti
menjadi momok bagi kehidupan mereka.Bahkan beberapa waktu terakhir ini
dihebohkan dan dikejutkan dengan kisah-kisah pilu yang menyayat hati dan begitu
miris untuk disaksikan.Kondisi ini tentunya sangat memperihatinkan dan
mengundang rasa iba bagi kita yang menyaksikan banyaknya potret kemiskinan yang
terus bertambah dari hari ke hari (puspensos.kemsos.go.id).
Ancaman krisis pangan yang dilontarkan Badan
Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) tidak boleh dapat dianggap sepele.Di tengah
dampak pandemi Covid-19 yang memukul kemampuan ekonomi masyarakat, ketahanan
pangan menjadi hal yang utama.Peneliti Center of Food, Energy and Sustainable
Development dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef),
Rusli Abdullah, mengatakan, persoalan ketahanan pangan harus menjadi perhatian
serius bagi pemerintah. Terlebih dalam situasi krisis seperti sekarang ini.Dirinya
mengatakan, dalam situasi seperti ini krisis pangan akan semakin membahayakan
masyarakat, khususnya kelompok miskin dan rentan miskin (lokadata.id, diakses
pada 18/12/20).
Petani kecil Indonesia, juga petani dari India
dan Cina, merupakan 39 persen dari penduduk miskin ekstrem dunia (CastaƱeda et
al., 2016).Namun, dengan “terhentinya dunia” akibat pandemi, mereka dijadikan
orang-orang yang diandalkan untuk menyangga krisis pangan dengan mempertaruhkan
kesehatan pribadi maupun keluarga untuk terus bekerja.Situasi ini jelas
terlihat dalam rencana Pemerintah Indonesia baru-baru ini untuk membangun
megaproyek lumbung pangan nasional dengan tujuan mengintensifkan dan
mempercepatproduksi beras dalam negeri. Lumbung pangan nasional sendiri
merupakan suatu bentuk dari Food Estate, yang dalam terjemahan bebasnya disebut
kebun pangan skala luas, yakni budidaya tanaman skala luas (lebih dari 25
hektar) yang dilakukan dengan konsep pertanian sebagai sistem industrial yang
berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, modal, serta organisasi dan manajemen
modern (Kementerian Pertanian RI, 2010).
Saat ini, dalam kondisi transisi ekonomi yang
cepat di mana industrialisasi, urbanisasi, dan desentralisasi politik
bersilangan dengan meningkatnya ketimpangan pendapatan yang memperlebar
kesenjangan regional dan peningkatan tingkat kemiskinan, Indonesia menghadapi
beban ganda kekurangan gizi, (termasuk defisiensi mikronutrien) dan kelebihan
gizi (kelebihan berat badan dan obesitas) di dalam daur hidup populasi yang sama
(Hanandita & Tampubolon, 2015; Vaezghasemi, 2017).
Di masa pandemi Covid-19,
laporan WEF (Katadata.co.id, diakses pada 18/12/20) yang mengutip riset Caitlyn
Collins, asisten profesor di Washington University, menuliskan bahwa pekerja
perempuan yang telah berkeluarga menghadapi banyak kesulitan membagi waktu
antara bekerja, mengurus rumah, dan mengurus anak. Ini membuat perempuan
pekerja terpaksa mengurangi jam kerja hingga lima persen atau setara dengan dua
jam per minggu.
Ketimpangan selama masa
pandemi juga terjadi pada akses pendidikan.Berangkat
dari hal kemampuan mengikuti pendidikan secara virtual, ternyata disparitas
akses sangat nyata.Infrastruktur pendukung kegiatan belajar seperti sambungan
internet tergolong sangat minim.Laju pendidikan di jalan digital menemui titik
kemacetan.Meski masyarakat sudah mengenal internet sejak tahun 1989, nyatanya
akses terhadap internet belum terdistribusi merata.Data Podes 2018 oleh BPS
membuktikan bahwa mayoritas povinsi di daerah matahari terbit Indonesia
memiliki akses layanan internet yang mendesak untuk segera dibenahi. Di Papua
misalnya, terdapat 81.3% desa yang tidak memiliki sinyal telepon seluler maupun
sinyal internet posisi kedua diikuti Papua Barat (68,7%), kemudian disusul
Maluku (58.2%). Selanjutnya, merujuk pada data yang dirilis oleh Lembaga
Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Papua terdapat 14 daerah yang tidak sama
sekali menjalankan kegiatan pembelajaran jarak jauh selama pademi. Praktis
akibat dari rendahnya infrastruktur pendukung belajar mengajar daring
diprediksikan berdampak terhadap penurunan lama bersekolah anak
(nasional.sindonews.com, diakses pada 20/12/20).
Hal ini sejalan dengan Data Indeks Pembangunan
Manusia menurut BPS tahun 2013 capaian pembangunan manusia pada tingkat
provinsi menunjukkan variasi antardaerah.Pada tingkat kabupaten/kota, variasi
capaian pembangunan manusia justru lebih beragam dibanding pada tingkat
provinsi. Capaian pembangunan manusia tertinggi berada di Kota Yogyakarta
(Provinsi DI Yogyakarta) dengan IPM pada tahun 2014 telah mencapai 83,78.
Sementara capaian pembangunan manusia terendah berada di Kabupaten Nduga
(Provinsi Papua) dengan IPM hanya sebesar 25,38. Sebagian besar kabupaten kota
telah berada pada status pembangunan manusia “sedang”. Sisanya telah masuk pada
kategori “tinggi” dan “rendah”.Selain itu, beberapa kabupaten/kota telah masuk
pada kategori pembangunan manusia “sangat tinggi” (ipm.bps.go.id, diakses pada
20/12/20).
Pandemi global yang saat ini terjadi menimbulkan banyak
pengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan manusia.Dari mulai persoalan
kemiskinan, ketimpangan akses pendidikan, ketimpangan gender, dan sebagainya.Corak
kemiskinan kian diperparah oleh hadirnya pandemi. Jumlah masyarakat miskin
tercatat bertambah pada tahun 2020 menjadi sebanyak 26,42 juta, lebih tinggi
dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini menyinggung ketahanan pangan masyarakat
Indonesia yang terancam rentan karena hilangnya pekerjaan akibat dari PHK
masal, menurunnya pendapatan UMKM, ditambah lagi munculnya fenomena panic buying selama masa pandemi yang
mengharuskan individu-individu menimbun sumber daya-sumber daya yang diperlukan
selama masa karantina pandemi. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh segelintir
masyarakat yang memiliki capital ekonomi dan daya beli tinggi, berbanding
terbalik dengan masyarakat yang memiliki keterbatasan ekonomi dan semakin
terpuruk pada masa pandemi global.
Ketimpangan juga terjadi pada akses pendidikan, yang
selama masa pandemi mengharuskan semua pelajar melakukan kegiatan dari rumah
dam memanfaatkan jaringan internet dan telepon genggam.Hal ini justru sangat
sulit dilakukan oleh wilayah yang memiliki keterbatasan signal internet yang
daerahnya tidak tersentuh signal untuk mengakses internet. Persoalan lainnya
adalah kepemilikan telepon genggam yang tidak semua masyarakat memiliki
kemampuan beli yang tinggi untuk menjadikan itu sebagai media pembelajaran. Hal
ini sangat menghambat dalam proses pembelajaran dan semakin memperlebar jurang
antara yang memiliki capital dan yang tidak memiliki capital. Masyarakat yang
tidak memiliki capital akan terus berada dibawah lawannya selama tidak diberi
kesamarataan akses dalam melakukan kegiatan pembelajaran terlebih pada masa
pandemi.
Pandemi global ini juga menciptakan ketimpangan dalam aspek gender.Perempuan semakin dihadapkan dengan peran domestic yang dianggap sudah menjadi kewajiban perempuan, disamping perempuan harus bekerja.Sedangkan realitanya urusan domestic rumah tangga menjadi kewajiban istri, dan suami bekerja diluar rumah saja.Perempuan melakukan lebih banyak tugas dalam kehidupan rumah tangga terlebih jika ia juga berperan dalam ruang public. Pekerja perempuan yang telah berkeluarga menghadapi banyak kesulitan membagi waktu antara bekerja, mengurus rumah, dan mengurus anak. Ini membuat perempuan pekerja terpaksa mengurangi jam kerja hingga lima persen atau setara dengan dua jam per minggu.Hal ini justru sangat berpengaruh terhadap performa perempuan dalam pekerjaan.Pendekatan humanis dalam relasi antar manusia mungkin dapat diterapkan untuk menciptakan keadilan ditengah ketimpangan.Pada akhirnya, pandemi global banyak sekali menyisakan dampak panjang bagi kehidupan masyarakat.Ketidaktersediannya ruang yang adil dalam masyarakat memperparah gap antara “miskin dan kaya”. Perlunya langkah strategis untuk menurunkan angka kemiskinan yang kian meningkat selama masa pandemi global.
DAFTAR PUSTAKA
Bantika,
V., Benu, O. L., & Kapantow, G. H. (2015, December).Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Ketimpangan Distribusi Pendapatan di Sulawesi Utara.In COCOS (Vol.
6, No. 17).
Booklet IPM, 19/12/20, https://ipm.bps.go.id/assets/files/
Hanandita, W.,
& Tampubolon, G. (2015). The double burden of malnutrition in Indonesia:
Social determinants and geographical variations. SSM - Population Health, 1,
16–25.
Ketimpangan Akses
Dan Kualitas Pendidikan, 19/12/20, https://nasional.sindonews.com/read/180532/18/
Lebarnya Jurang
Ketimpangan Sosial Ekonomi Saat Pandemi, 19/12/20, https://tirto.id/lebarnya-jurang-ketimpangan-sosial-ekonomi-saat-pandemi-covid-19-f5St
Menilik Potensi
Resesi Ekonomi Di Tengah Pandemi, 19/12/20, https://www.kompas.com/tren/read/2020/08/07/090500665/menilik-potensi-resesi-ekonomi-indonesia-di-tengah-pandemi-covid-19-?page=all.
Musa Asy’arie, 2011, “Kebangkitan Nasional,
Perspektif Kebudayaan,” Kompas.
Pandemi Korona
Ancam Ketahanan Pangan Indonesia, 21/12/20, https://lokadata.id/artikel/pandemi-korona-ancam-ketahanan-pangan-indonesia
Persentase
Penduduk Miskin Maret 2020, 21/12/20, https://www.bps.go.id/pressrelease/2020/07/15/1744/
Potret Kemiskinan
Ditengah Pandemi Covid 19, 21/12/20, https://puspensos.kemsos.go.id/potret-kemiskinan-di-tengah-pandemi-covid-19 https://katadata.co.id/dinihariyanti/infografik/5f6adc527a090/kemiskinan-meningkat-di-masa-pandemi
Phillips, C. A.,
Caldas, A., Cleetus, R., Dahl, K. A., Declet-Barreto, J., Licker, R., Merner,
L. D., Ortiz-Partida, J. P., Phelan, A. L., Spanger-Siegfried, E., Talati, S.,
Trisos, C. H., & Carlson, C. J. (2020). Compound climate risks in the
COVID19 pandemic. Nature Climate Change.
Realisasi
Penanganan Covid-19 dan PEN HinggaAgustus Capai 21,8%, 10/12/2020,
https://www.kemenkeu. go.id/publikasi/berita/
Tantangan
Kesetaraan Gender di Masa Pandemi, 20/12/20, https://katadata.co.id/padjar/berita/5f46075138625/
Komentar
Posting Komentar