Adaptasi Kebiasaan Baru pada Pola Pendidikan dalam Perspektif Talcott Parsons

 

Adaptasi Kebiasaan Baru pada Pola Pendidikan dalam Perspektif Talcott Parsons

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi terutama di bidang pendidikan, dimana pada dasarnya pendidikan merupakan suatu proses komunikasi dan informasi dari pendidik ke peserta didik yang berisi informasi-informasi pendidikan, yang memiliki unsur-unsur pendidik sebagai sumber informasi, media sebagai sarana penyajian ide, gagasan dan materi pendidikan serta peserta didik itu sendiri (Oetomo dan Priyogutomo, 2004).

Pembelajaran merupakan investasi yang paling utama bagi setiap bangsa apalagi bagi bangsa yang sedang berkembang yang giat membangun negaranya.Pembangunan hanya dapat dilakukan oleh manusia yang dipersiapkan melalui pembelajaran, guna mencapai esensi kemanusiaan yaitu sebagai khalifah di atas bumi. Pengembangan pembelajaran tidak terlepas dari tanggung jawab seorang pendidik, bagaimana pendidik tersebut melakukan transformasi ilmu yang dimiliki dengan bahan ajar yang telah ada, serta dengan memperhatikan metode-metode pengajaran yang mudah diterima oleh peserta didik sehingga tujuan tercapai sesuai dengan apa yang diharapkan (Idrus,2019).

Namun, saat masa pandemi global covid-19, pelaksanaan pembelajaran menjadi distance learning yang membutuhkan komunikasi yang baik antara siswa, orang tua, dan sekolah dikarenakan jarak yang jauh dan tidak memungkinkan antara siswa, orang tua, dengan sekolah bisa bertatap muka secara terus-menerus. komunikasi antara siswa dengan sekolah dilakukan secara virtual atau dunia maya. Media yang digunakan adalah beberapa media sosial yaitu, Facebook, WhatsApp, dan Skype. Sedangkan antara orang tua dengan sekolah lebih banyak kepada konsultasi, diskusi, maupun sharing mengenai perkembangan belajar anak selama mengikuti distance learning dan kelanjutan pendidikan siswa setelah lulus nanti juga dikonsultasikan kepada sekolah (Izzatin,2016).

Dalam kurun waktu yang sangat singkat masyarakat dunia harus dihadapkan dengan penyebaran virus Covid-19.Virus ini menyerang hampir semua negara di dunia yang menyebabkan segala sektor yang berhubungan dengan kehidupan manusia terganggu dan terancam kalah.Virus yang sampai sekarang sangat lambat ditemukan penangkal dan obatnya telah menjangkiti sekitar 30 juta umat manusia di seluruh dunia dan sekitar 900 ribu orang telah meninggal dunia akibat virus ini.Covid -19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-Cov-2).Covid-19 dapat menyebabkan gangguan sistem pernafasan, mulai dari gejala ringan seperti flu, hingga infeksi paruparu, seperti pneumonia (Rokom, 2014).Virus sejenis dengan virus corona ini sudah lama ada di dunia ini dengan tingkat penyebaran dan korban yang bervariasi. (Fathin,2020)

Indonesia terus berusaha melakukan berbagai upaya pencegahan dan pengendalian pandemi COVID-19 hingga saat ini, demikian juga negara-negara lain di dunia.Jumlah kasus COVID-19 di Indonesis terus bertambah.Meskipun sebagian dapat sembuh, tapi tidak sedikit yang meninggal.Infeksi COVID-19 pada manusia dianggap sebagai hal yang baru karena biasanya Corona Virus Disease sebelumnya hanya dikenal pada hewan.Perilaku/karakteristik baru pada COVID-19 ini adalah kemampuannya menginfeksi dan menular dari manusia ke manusia dengan cepat, dapat mengakibatkan penderita radang paru pneumonia, sesak nafas, dan kematian.Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah-langkah yang bersifat komprehensif dalam upaya preventif melalui physical distancing, social distancing, pengadaan alat pelindung diri (APD), sampai pada pembatasan sosial berskala besar (PSBB).(Fathin,2020)

Pada bulan Mei atau April Indonesia menerapkan PSBB (pembatasan sosial berskala besar), dan menimbulkan banyak perubahan pada perilaku manusia, pekerjaan bahkan pendidikan.Banyak pola-pola yang bergeser dari yang semestinya, misalnya aktivitas cenderung dibatasi dengan peraturan-peraturan baru yang dianggap demi kepentingan bersama untuk menghentikan penyebaran pandemi.Dalam dunia pendidikan misalnya, sekolah-sekolah tetap melakukan pembelajaran tetapi secara online (daring).Berdasarkan pengalaman pribadi saya pun, saya merasakan banyak sekali perubahan yang terjadi dalam aktivitas sehari-hari.Ketika pembatasan social itu menyebabkan saya dan semua masyarakat untuk melakukan aktivitas dirumah, saya merasakan ada beban tambahan yang saya pikul. Dimana proses belajar yang dilakukan seharusnya dengan metode-metode yang efisien dan dapat memanfaatkan fasilitas sekolah demi mendukung pembelajaran, namun hal itu berubah menjadi beban ganda dan diferensisasi sosial bagi pelajar untuk dapat belajar secara mandiri demi memenuhi standar-standar penilaian yang telah ditentukan.

Terlepas dari hal tersebut, teknologi menjadi penunjang terselenggaranya pembelajaran secara daring ini.Kepemilikan gawai menurut saya menjadi indicator penting dalam keberhasilan pola adaptasi baru selama masa pandemi.Sehinnga dengan demikian, menjadikannya sebagai goal atau tujuan yang ingin dicapai dalam sistem social.Hal ini dapat dijelaskan dengan paragdima AGIL yang mempengaruhi keperhasilan dari pola-pola tersebut.

Dalam (Ritzer, 2001) dijelaskan bahwa banyak bentuk diferensiasi social yang tergambar dalam variable pola Prsons dikembangkan baik kearah teoritis maupun historis.Secara teoritis, bentuk-bentuk diferensiasi social itu adalah jembatan menuju paradigm AGIL atau paradigm empat fungsi yang tetap menjadi inti upaya-upaya teoritis Parsons.Sistem ini mendeskripsikan kehidupan social dalam hubungannya dengan empat urgensi utama. Keempatnya dapat diurutkan sebagai berikut: Tantangan adaptif (A) yang mencakup interaksi antara masyarakat dengan alam luar, menghasilkan sumber daya yang dapat digunakan untuk distribusi social. Tantangan pencapaian tujuan atau goal (G).mencakuppenyesuaian sumbern daya untuk memenuhi tujuan manusia. Tantangan integrasi (I) yang berpusat pada penyelarasan dalam seluruh sistem social.

Jika dikaitkan dengan permasalahkan yang sebelumnya dijelaskan.Dalam paradigm AGIL pertama adalah adaptasi, tahap ini mengharuskan adanya pembiasaan kebiasaan baru di masyarakat.Kebiasaan baru yang harus dibiasakan di era new normal sekarang ini adalah memakai masker, menjaga jarak, tidak berkerumun, sering-sering mencuci tangan, dan sebagainya.Selain itu, sebuah sistem sosial tentunya memiliki tujuan, dan tujuan inilah yang harus dicapai agar sistem sosial tetap bertahan.New normal sendiri memiliki tujuan untuk menekan laju penyebaran COVID-19 dengan tetap menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasanya. Tujuan ini akan tercapai jika masyarakat mampu beradaptasi dengan kebiasaan baru di era new normal. Pada tahap integrasi, diperlukan kerja sama yang baik antar berbagai komponen seperti pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat itu sendiri. Integrasi menjadi penting, karena satu sama lain saling mempengaruhi, jika pemerintah sudah membuat aturan, maka aturan itu harus dijalankan. Tanpa adanya integrasi, kebijakan new normal akan sia-sia dan hanya jalan ditempat, tanpa ada hasil yang dicapai.Tahapan yang terakhir adalah latensi. Latensi adalah pemeliharaan nilai, norma, dan budaya yang dianut masyarakat. Setelah masyarakat mampu beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru dan tercapainya tujuan new normal, maka seluruh komponen masyarakat perlu untuk menjaga nilai, norma, dan budaya baru yang sudah terbentuk. Pemeliharaan sistem sosial "new normal" diperlukan supaya sistem ini tetap bertahan dan tidak ambruk.

Adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat selama masa pendemi global ini untuk dapat menerapkan protokol kesehatan.Seperti mengenai kebijakan New Normal, dengan tujuan dapat memulihkan perekonomian, yang merupakan sektor terdampak akibat pendemi ini, seperti banyaknya lembaga pendidikan, sekolah, tempat wisata dan tempat usaha pun tutup karena ingin memutuskan rantai penyebaran virus corona ini.Hal ini tidak terlepas juga dari analisis kesehatan dan sosial-ekonomi.Dengan begitu masyarakat diharapkan dapat menyesuaikan New Normal, masyarakat dapat lebih mematuhi dan menjalankan protokol kesehatan dalam melakukan kehidupan sehari-harinya.Namun, tidak dipungkuri bahwa ini merupakan situasi yang sulit karena tidak semua masyarakat memiliki kebiasaan seperti ini, sehingga perlunya adapatasi dengan kehidupan New Normal.Tetapi kita lihat saja kedepannya apakah New Normal dapat dilaksanakan dan masyarakatnya dapat beradaptasi dengan lingkungan dan budaya baru.

Ketika masyarakat dapat berhasil untuk beradaptasi dengan hidup berdampingan bersama virus corona ini maka tujuan dari penerapan New Normal ini dapat terwujud.Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa penerapan kebijakan New Normal ini dapat menjadi bomerang, bagi masyarakat Indonesia.Dimana kemungkinan dapat terjadi, kasus peningkatan positif yang membuat tenaga kesehatan menjadi kewalahan dalam menangani kasus pendemik ini.Oleh karena itu pentinganya adanya konsensus untuk mencapai goal attainment, dimana pemerintah dan masyarakat perlu berkolaborasi dalam melaksanakan New Normal ini.Inilah yang menjadi variable pencapaian tujuan dalam paradigm AGIL.

Berkaitan dengan kebijakan New Normal yang diterapkan dibeberapa wilayah, seperti di Jakarta dan daerah lainnya.Masyarakat perlu melaksanakan new normal dalam kehidupan sehari-harinya.Dapat dicontohkan seperti ketika kita hendak pergi belanja ke mall atau pasar, pergi bekerja, semua itu merupakan bagian dari integrasi.Yang dimana pola ini sudah ada, mencakup adaptasigoal attainment, dan pola-pola ini dapat berjalan dengan baik.

Tahap yang terakhir adalah latency, suatu sistem perlu saling melengkapi, memelihara dan memperbaiki.Hal ini berkaitkan dengan kondisi sekarang, yang dimana perlu adanya motivasi dalam pelaksanan sistem tersebut baik motivasi dari individual maupun dari kulturalnya sendiri. Kita dapat melihat beberapa Negara lainyang telah berhasil mengatasi pendemi Covid-19 ini dengan berbagai strategi dan kekhasan negara masing-masing. Untuk itu dalam perencanaan penerapan New Normal atau adaptasi kebiasaan baru perlu adanya pola-pola yang diterapkan oleh masyarakat seperti, protokol kesehatan dan lainnya.Tetapi jangan sampai pola-pola ini belum mendukung untuk kita dapat hidup New Normal. Jika pola ini belum terlaksanakan dengan baik, maka ada kemungkinan kebijakan baru ini akan menjadi bom waktu yang dapat berdampak kepada masyarakat. Ini menyebabkan juga kepercayaan dan motivasi yang dimiliki masyarakat menjadi hilang dan menyebabkan masyarakat tidak lagi dapat mempercayai kebijakan yang diambil oleh pemerintah.Karena mereka telah menganggap pemerintah telah lalai dalam mencegah dan mengatasi pandemik Covid-19 tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Faiqotul Izzatin Ni’mah. (2016). Manajemen Pembelajaran Jarak Jauh (Distance Learning) Pada Homeschooling “Sekolah Dolan", Manajemen Pendidikan, 25.1 112–19 .

Fathin, dkk.Membangkitkan Partisipasi Trang Tua dalam Adaptasi New Normal. Fatin Nadifa Tarigan1), Taufika Hidayati 2)) Universitas Pembinaan Masyarakat Indonesia

Idrus L, (2019). Evaluasi Dalam Proses Pembelajaran, Adaara: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 9.2, 920–35 .

Oetomo & Priyogutomo, J. (2004).Kajian Terhadap Model e-Media dalam Pembangunan Sistem e-EducationMakalah Seminar Nasional Informatika.

Ritzer George.(2001). Hankbook Teori Social.Penerbit Nusa Media.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Transformasi Konflik dan Pembangunan Perdamaian Konflik Pertambangan Pasir di Lumajang Jawa Timur

Nilai Spiritualitas dan Dinamika Eksistensi Agama Lokal: Agama Malim dari Danau Toba Samosir