Tantangan dan Dilema Female Home Based Workers yang Terabaikan
Pada tahun 2030, Indonesia diperkirakan akan menjadi
negara dengan perekonomian terbesar ke-7 di dunia. Terdapat empat sektor
potensial yang akan menopang laju perekonomian Indonesia pada masa mendatang,
yaitu pelayanan konsumen atau jasa, pertanian dan perikanan, sumber daya alam,
serta pendidikan. Indonesia membutuhkan 113 juta tenaga kerja dengan
keterampilan dan keahlian memadai untuk mewujudkan hal tersebut[i].
Meskipun hal ini merupakan suatu prospek baik dan
menjajikan dimasa depan, masih terdapat beberapa tantangan dalam merekrut
tenaga kerja perempuan dalam sektor tersebut. Persentase perempuan yang bekerja
disektor formal masih terbilang minoritas. Mengapa demikian? Apakah
memerdekakan posisi perempuan masih merupakan utopia belaka? Hanya 37,4% pekerja
perempuan yang bekerja di sektor formal dibandingkan pekerja laki-laki 62,6%[ii].
Lalu kemana sisanya? Sektor informal.
Ya, sektor informal merupakan ladang bagi perempuan
mayoritas mengadu nasib. Ada banyak alasan mengapa hal tersebut dapat terjadi,
antara lain keterbatasan eksternal yaitu keterbatasan peluang pekerjaan bagi
kaum hawa, keterbatasan internal yang berasal dari dalam diri dan dalam
lingkungan seperti keluarga, yang muncul melalui stereotype.
Stereotype
yang mengkonstruksikan bahwa perempuan tidak selayaknya berada dalam lingkup
industri yang “tidak ramah”, perempuan tidak pantas karena tidak atau kurang
berani, perempuan sebaiknya menjaga anak dan mengurusi suami dirumah. Hal itu
mendorong terciptanya suatu prasangka terhadap perempuan bahwa perempuan tidak
layak untuk diperhitungkan. Ada banyak kasus yang ditemukan seperti banyaknya
lulusan perempuan dari lulusan bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and
Mathematics) khususnya jurusan teknik
pada akhirnya memilih bekerja sebagai jasa administrasi yang seharusnya diisi
oleh lulusan dari diploma 3 maupun SMA.
Hal itu dikarenakan rendahnya tingkat partisipasi
perempuan dalam sektor industri yang didorong oleh minimnya peluang pekerjaan
untuk perempuan. Nah, itu bagi yang mengenyam pendidikan lebih lanjut. Lalu
bagaimana dengan para perempuan yang tidak terjun dalam bidang tersebut?
Pekerja rumahan adalah sebuah pilihan yang paling banyak digadrungi dalam
menyambung mata ekonomi dalam keluarga.
Hal itu menjadi sangat praktis bagi mereka
dikarenakan sudah terkonstruksinya bahwa wanita harus mengurus rumah, anak, dan
suami, maka hal ini merupakan suatu pilihan yang dianggap kebanyakan pekerja
perempuan sebagai tindakan rasional karena dapat membagi waktu dengan
menghasilkan rupiah tanpa mengenyampingkan tugas yang bagi perempuan merupakan
suatu kewajiban dan kodrat.
Pekerja rumahan banyak diisi oleh perempuan yang
berasal dari kelompok kelas ekonomi bawah. Dilihat dari sudut pandang struktural,
penghuni-penghuni pada kelas bawah merupakan dominan orang yang tidak memiliki
modal yang besar yang digambarkan dengan finansial dan jaminan sosial. Penghuni
kelas bawah merupakan mayoritas kelompok yang memiliki tenaga kerja dan jasa sebagai
modal dan bentuk pertukaran dengan materi finansial.
Jasa pengolahan sepatu merupakan contoh yang paling
banyak kita temui dan banyak diisi oleh pekerja perempuan dan banyak kasus yang
lainnya. Satu hal yang perlu menjadi
sorotan adalah mengapa begitu banyaknya usaha semacam ini yang menjatuhkan
pilihannya pada pekerja perempuan. Terdapat suatu pemanfaatan laten yang mengilhami
anggapan bahwa perempuan merupakan makhluk yang teliti, telaten, rajin, dan
cocok dalam mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan kerapian dalam prosesnya.
Pengusaha sepatu kebanyakan yang menerapkan metode putting out system (POS) dengan cara
mengambil pekerjaan dari pengusaha dan dibawa kerumah untuk dikerjakan sendiri.
Hal ini membuat rumah para pekerja menjadi tempat produksi dan menimbulkan
biaya-biaya lainnya yang tidak diperhitungkan didalam upah. Ini masih masalah
tekhnis, namun ada substansi lain yang juga krusial seperti jam kerja yang
tidak terbatas karena ketiadaan kontrak atau perjanjian kerja yang berkeadilan,
upah yang sangat rendah karena dianggap ini merupakan pererjaan yang sangat
mudah dan dapat dikerjakan dirumah, terlebih lagi tidak adanya jaminan sosial
untuk meng-cover segala resiko yang
akan terjadi selama bekerja.
Dengan upah yang minim, para pekerja
harus menanggung sendiri sayatan tangan akibat gesekan karet sepatu dengan
alatnya, upah yang minim tersebut harus dibagi dengan biaya pengobatan yang
dihasilkan dari proses produksi. Berkurangnya waktu tidur yang akan berdampak
pada kesehatan, dan pembagian kerja yang tidak terstruktur seperti pekerjaan
yang banyak harus dibantu oleh para anggota keluarga yang lainnya.
Bertambahnya jumlah tenaga dalam
pengerjaannya tidak berbanding lurus dengan upah yang diterimanya. Seolah
seperti budak kapitalis yang menghamba pada suatu struktur yang mereka sadari atau
tidak itu merugikan namun menimbulkan kesadaran palsu yang berbentuk ide dan
kerangka kerja yang secara laten menguntungkan dikarenakan tidak memiliki
pilihan lain (other options).
Hal yang harus diperhatikan adalah suatu
alasan yang menimbulkan kondisi seperti ini yakni dikarenakan rendahnya nilai
tawar pekerja perempuan terhadap pemilik modal yang membutuhkan tenaga kerja
dalam menjalankan proses produksinya demi meraup keuntungan. Maka dari itu
perlu kita menaruh perhatian pada status pekerja rumahan khususnya perempuan
yang terstrukturisasi sebagai kelas nomor dua dalam relasi masyarakat.
Hal ini berakibat pada eksploitasi,
marginalisasi, dan subordinasi sehingga menimbulkan ketidakadilan terutama
dalam keadilan upah dan jaminan sosial, terutama jaminan kesehatan mengingat adanya
luka (dampak) yang ditimbulkan dari proses produksi. Pekerja rumahan ini juga
harus dipayungi oleh peraturan dan kebijakan yang pro pada perlindungan hak-hak
pekerja rumahan dan sanksi tegas bagi pelanggaran regulasi demi memutus mata rantai
pelanggengan eksploitasi pada perempuan pekerja rumahan (female home based workers).

Komentar
Posting Komentar